Sunday, 29 March 2020

Hari Produktif

Hari ini produktif sekali. Tapi nggak mau cerita, karena baru aja nulis di blog sebelah tentang apa aja kerjaan yang udah diselesaikan. Padahal ini baru jam 10 pagi. Wow.

Tapi kalau dipikir, nggak ada yang mengesankan. Soalnya dari bangun tidur  (subuh) sampai sekarang, berarti udah 6 jam durasi melek. Pantas aja banyak kerjaan berhasil kuselesaikan.


Ini si Jembal waktu lagi bikin garasi.

Upload sini buat kenangan. Bukan kenangan sama si jembal, tapi kenangan waktu bangun garasi.


Itu si Jono.

Oh jadi inget dulu selesai bikin garasi ini, malem-malem pergi ke Wadaslintang. 

Di Sawangan mampir di warung milik temen SMA-ku, duh siapa lupa namanya. Dia punya warung makan, sate marmut. Untungnya ada menu lain, jadi saya bisa makan ayam goreng biasa. Mereka berdua (Jembal dan Jono) yang makan sate marmut.

Ke Wadaslintang, omaigod, nyariin kos-kosannya si Oniv. Dan ketemu. Jadi ini semacam gladi resik, biar besoknya saya bisa ngapel tanpa harus nyariin lagi.

Sayangnya dia juga sekarang udah nikah dan punya anak. Untungnya kita punya banyak kenangan indah (dan ada beberapa kejadian memalukan, wkwk).

Kasian sekali saya.

Saatnya beres-beres rumah

Selama berbulan-bulan rumahku berantakan, tapi kali ini serius mau saya rapiin, walaupun paling juga bertahap. Namanya kehidupan nyata, bukan sulap, ya kan?

Intinya, sekarang waktu yang tepat untuk bikin target dan rencana.


Belakangan ini banyak banget urusan, pikiran sangat terganggu nggak bisa fokus ngapa-ngapain. Alhasil rumah bener-bener berantakan. Kapal pecah udah ketinggalan.

Ada ruangan yang baru dicat separuh dan pending udah berbulan-bulan. Padahal cat temboknya masih banyak.

Bahkan masih ada semen satu sak yang udah telanjur dibuka tapi baru dipakai seember. Mungkin udah mengeras sekarang. Mudah-mudahan sih belum, jadi bisa dipakai buat nambal-nambal apaan kek besok.

Mudah-mudahan setelah pandemi berakhir, semuanya udah siap. Maksudnya siap bawa cewek ke rumah. wkwk.. biar nggak malu-maluin.

Masak iya bawa tamu ke rumah, masih banyak sampah, kulkas kosong, makanan nggak ada, cemilan nggak punya. Apalagi banyak ruangan dengan cat yang masih belepotan, nggak lucu. Walaupun secara pribadi bodo amat sih sebenernya.

Tapi kalau bawa cewek yang lagi diprospek kan kesannya jadi jelek. Intinya, buat pencitraan aja sih. 

Walaupun prosesnya bakalan lama ini. Belum soal mobil yang masih harus dibenerin kaki-kakinya. Kalau di tengah jalan ketemu cewek, mudah-mudahan dia nggak ilfil, mau nerima aja gitu apa adanya.

Okesip.

Akhirnya Semua Kelar

Hari ini, Minggu tanggal 29 Maret 2020, semuanya selesai.

Semua urusan sama mantan istri semuanya beres. Barang-barang pribadi udah dikembalikan masing-masing. Semuanya. Thanks to Mbimbing dan.. entah Hari atau Gadang yang ikut bantu pindahan. 

Urusan pengadilan selesai, urusan pribadi juga selesai. Lega banget rasanya. 

Saatnya memulai hidup baru. Cari pasangan baru.


Eh ada yang masih kurang. KTP belum bikin baru. Tapi ini mah urusan sepele. Lagian masih musim korona. Takutnya di kecamatan ada orang yang positif.

Urus besok aja lah, kalau pandemi berakhir.

Jadi KTP yang sekarang statusnya masih "kawin". wkwk..

Saturday, 28 March 2020

Banyak Maunya Banyak Mintanya - Pinjam Uang

Kali ini mau meng-ghibah temen sendiri. Tenang aja, nama dan tempat saya sembunyikan. Lagian nggak ada yang tau saya punya blog ini.

So, saya punya temen, lumayan akrab karena (bisa dibilang) setiap hari nongkrong bareng. Dia punya utang sebesar 2 juta rupiah sejak dua tahun lalu belum dikembalikan.

Namanya temen sendiri lagi tertekan kena masalah (sama rentenir), maka dulu saya sendiri yang menawarkan utang itu. Saya bilang terserah mau dikembaliin kapan, yang penting uang ini untuk menutup (melunasi) semua pinjaman rentenir itu.

Ini kesalahan pertama saya, kenapa saya ngomong "terserah mau dikembalikan kapan". Stoopid, jadinya piutang saya disepelekan.



Ceritanya dia punya sisa utang 4 juta. Ini utang patungan (bagi dua) dengan sepupunya. Dan dia berniat melunasi sisa jatah utang 2 juta miliknya. Katanya sepupunya sering nunggak dan dia ikut terseret diuber debt kolektor. Dia cuma pengen hidupnya tenang.

Makanya saya dengan senang hati memberinya pinjaman. Ternyata sampai dua tahun uang saya masih belum ada tanda dikembalikan.

Sebagian besar waktu, memang saya lupa bahwa temen saya ini punya utang. Hanya ingat kalau lagi krisis ekonomi. Biasalah kalau lagi kere tiba-tiba inget uang-uang nggantung yang dipinjem orang.

Itupun saya tidak pernah menagihnya sama sekali. SAMA. SEKALI.


Masalahnya, beberapa waktu lalu, ternyata dia punya nyali mau minjem uang lagi.

What the F. 

MAU. PINJEM. UANG. LAGI.

Kok bisa?

Oke, dia memang temen akrab, tiap hari ngumpul bareng rame-rame sama temen yang lain. Tapi ini soal uang. Dalam hati, saya tetep berharap dia segera melunasi utangnya yang dulu.

Dia bukan Joey, saya bukan Chandler. Ini kehidupan nyata. Walau sebenernya saya nggak tega, akhirnya dengan berat hati saya harus menolak permintaannya kali ini. 

Btw, dia mau pinjam uang 500 ribu. Saya nggak peduli apapun alasannya, yang jelas dia udah salah dalam melangkah.

Etikanya, kalau mau pinjam uang (lagi), utang yang dulu dilunasin dulu. Kasih jeda waktu. Baru boleh pinjem lagi.

Ini utang lama belum dibalikin udah mau minjem lagi. Hadeh..



Sisi baiknya, saya jadi punya momen untuk mengingatkan utangnya yang dulu.

Saya bilang "Sori men, nanti kamu malah jadi semakin berat melunasi semua utangmu".

Diapun minta maaf, dan katanya dia juga nggak enak karena belum bisa bayar utangnya yang dulu.

Guess what, sekarang udah 2,5 tahun utang yang 2 juta juga belum dikembalikan.

Fiuh... tingkat kesadaran sebagian rakyat indonesay memang menyedihkan.

Banyak Maunya Banyak Mintanya - Pinjam Mobil

Ada sebagian orang yang kadang-kadang kalau meminta tolong sesuatu, bisa sangat kelewatan.

Dulu waktu awal membeli mobil, saya suka ajak jalan-jalan temen-temen saya. Termasuk beberapa kawan sekolah dulu yang sudah lama nggak ketemu. Lagi seneng-senengnya kan. Bahkan beberapa diantaranya saya latih nyetir.

Nah suatu hari ada salah seorang kawan lama yang sebelumnya pernah saya ajak jalan (dan latih nyetir juga), tiba-tiba dia mau meminjam mobil. No big deal. Saya juga nggak masalah biasanya. Pinjam tinggal pinjam. Banyak temen saya yang lain juga suka pinjam. Bahkan saya tidak pernah meminta uang bensin atau apapun sebagai gantinya.

Sempat ada temen minjem mobil sebentar dan pulangnya bumper retak 10 cm, sama sekali nggak saya permasalahkan. Itu cuma mobil. Cuma alat transportasi.

Tapi kali ini beda, dia mau pinjam untuk keluar kota sehari semalam. Dalam rangka menjemput pacarnya di luar kota (intinya mau dipake jalan-jalan pacaran).

Kalau saya anak sultan, mungkin nggak akan saya permasalahkan, tapi saya bukan.

Mobil dipinjem menginap pasti bakalan bikin saya nggak tenang.

Lagipula resikonya terlalu besar. Pertama, dia belum punya SIM. Kedua, dia belum lincah nyetir mobil. Big NO bagi saya. Jelas saya tolak permintaannya.

Masalahnya, dia malah ngeyel, walau sudah saya jelaskan. I mean.. no means NO, OK? Harusnya i don't need to explain anything.



Nyatanya dia sampai WA dan missed call berkali-kali. Walau tetap saya cuekin dengan alesan saya lagi sibuk.

Alasan yang bikin saya terpelatuk "Masak harus naik taksi bro, mahal naik taksi". Terakhir saya bilang "naik travel napa?". Dan dia berhenti menghubungi saya. Sampai sekarang.

Btw, naik motor bukan opsi karena pacarnya ini mau sekalian ikut pulang bawa banyak barang (katanya). 



Maksudku, 

Dia itu kesambet apa sampai punya nyali untuk pinjam mobil (sehari semalam) dengan alesan karena ogkos taksi terlalu mahal. Yaiyalah mahal, luar kota PP mungkin 8 jam perjalanan, pasti mahal. Belum lagi kalau mau jalan-jalan. Padahal kan masih ada opsi lain kek sewa mobil di rental atau travel. Ini kok tega, saya mau dijadiin tumbal untuk memfasilitasi mereka pacaran? Biar irit.

Kenapa pula dia ngeyel?

Intinya, kenapa dia nggak mau rugi?

Oke dia memang berjanji untuk isi bensin. i mean.. yaiyalah, masak harus saya yang isiin juga.

Entah untuk orang lain, kalau saya sih mana berani pinjam mobil teman (walau akrab bukan main) sampai menginap. Banyak rental ini, banyak travel pula. Kenapa harus merepotkan orang lain?

Kecuali situasinya berbeda, temen saya anak sultan, uangnya tak berseri, koleksi mobilnya berderet di garasi, mungkin saya berani pinjam satu mobil yang paling jelek untuk dibawa ke luar kota.

Sayangnya saya bukan anak sultan, mobilku cuma satu, itupun mobil tua beli bekasan yang butuh banyak perawatan. Ya mana mau saya serahkan gitu aja. Gila apa.

Coba semua orang di seluruh dunia punya kesadaran tinggi seperti saya, wkwk.. pasti dunia akan sangat indah.

Masker

Jadi ceritanya kemarin sore pas lagi keluar mau cari makan malam, saya melihat ada orang buka stand jualan masker di pinggir jalan. Untungnya saya nggak melihat label harga yang ditawarkan, karena cuma lewat sekilas sambil mengendarai motor.

Coba kalau saya lihat harganya, pasti pikiran saya langsung kemana-mana. 

Kalau harganya mahal mencekik, pasti dalam hati langsung ngedumel sendiri, bikin mood menjadi buruk (sampai beberapa hari ke depan). Kalau harganya murah, pasti langsung terkagum-kagum sama orang yang jualan dan bisa jadi mood booster (sampai beberapa jam ke depan).

Nemu foto lama tahun 2013 buat thumbnail
Ngomong-ngomong soal masker. Ini keadaan lagi genting banget sebenernya. Tapi kebanyakan orang di lingkunganku nggak ada yang sadar.

Di perumahan sebelah masih ada keluarga yang ngadain pesta pernikahan. Di pondok pesantren sebelah kampung bahkan masih ngadain Pekan olah raga santri. Stoopid menurutku.

Di masjid kampungku, masih ngadain sholat jumat, dan sholat berjamaah 5 waktu juga masih tetep lancar. How the F.

Padahal semua orang harusnya berdiam diri di rumah (hanya keluar untuk cari makan atau obat), rajin cuci tangan, minimalisir menyentuh wajah, jaga kesehatan sekuat tenaga, dst.

Kalaupun keluar rumah harusnya semua orang memakai masker. 

Di dunia yang ideal, semua orang, baik yang sehat maupun yang positif sakit, harusnya wajib pake masker. Tapi ini keadaan genting, banyak orang egois memborong masker untuk dirinya sendiri. Makanya muncul anjuran, diprioritaskan yang sakit menggunakan masker, yang sehat hanya opsional.

Tapi menurutku, yang sehat pun harusnya tetap menggunakan masker, apapun lah, nggak harus N95. Apapun yang bisa dijadiin masker untuk meminimalisir serangan virus.

Kita semua tau bahwa pintu masuk virus adalah mulut, hidung, bahkan di situasi ekstrim, mata. Apa susahnya pake masker untuk menutup pintu itu.

Kita semua tau bahwa saliva adalah pembawa virus tersangkanya. Harusnya semua orang pake masker sebagai perisai pertama.

Kita semua tau bahwa panik itu tidak perlu, tapi tujuan social distancing adalah demi menurunkan kurva. Tapi kok....